Dari kanan Lora Hasyim Asy'ari, Lora Fathur Rozi, TGB HM Zainul Majdi, dan Lora Fakhot di Ponpes Nurul Cholil, Madura. TGB memberi siraman rohani kepada para santri.

Polosnya Orang Madura dan Doa Khusus Maulanasyaikh

Posted on

PESAWAT dari Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo bersiap terbang. Sebelumnya pilot sudah memberi informasi penerbangan dari Bandara Internasional Juanda menuju Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, Lombok akan ditempuh selama 55 menit.

Di pojok kanan pesawat, TGB HM Zainul Majdi memejamkan mata. Membaca doa. Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) Cabang Indonesia ini usai mengisi pengajian di Pondok Pesantren Nurul Cholil, Bangkalan. Ponpes ini asuhan Kiai Zubair Muntasor, cicit dari Syaikhona Kholil, guru ulama Nusantara. Beberapa saat setelah pesawat mengudara, TGB membuka perbincangan. Pembahasannya seputar acara di Ponpes Nurul Cholil.

“Lucu juga kalau mendengar cerita tentang orang Madura semalam,” kata TGB.

Saat berada di Ponpes Nurul Cholil, putra-putra Kiai Zubair Muntasor banyak menyampaikan kisah-kisah lugu orang Madura. Lora Fakhot Zubair, Lora Fathur Zubair, dan Lora Hasyim Asy’ari bergiliran melempar cerita.

Diantara cerita yang mengundang tawa itu disampaikan oleh Lora Hasyim Asy’ari. Kala itu, Kiai Zubair pergi umrah diikuti jamaah dari Madura.

“Beliau (Kiai Zubair) kadang bercanda. Tapi, kadang dianggap serius sama jamaah,” katanya.

Saat itu, lanjut Lora Hasyim, Kiai Zubair hendak ke kamarnya, di lift berjumpa dengan jamaah. Seperti biasa, obrolan ringan pun terjadi. Sementara jamaah itu dengan takzim menanggapi segala pertanyaan Kiai Zubair.

“Kemudian beliau bilang, bagus ya lift-nya. Kamar kamu disini saja,” bebernya.

“Enggih Kiai. Begitu dijawab,” lanjutnya.

Tanpa disangka, candaan tersebut direspon dengan polos. Jamaah tersebut tak mau keluar dari lift-nya. Berulang-ulang naik turun lift.

“Sampai ada jamaah lain tanya, kenapa kok terus di lift. Kemudian dijawab, kata Kiai Zubair kamar saya disini,” sambungnya.

Kisah Lora Hasyim ini tentu saja membuat semuanya tertawa, tak terkecuali TGB. Ketua Umum Dewan Tanfidziyah PBNW ini sampai mempertegas cerita tersebut.

“Ini betulan,” tanya TGB.

“Iya betulan Tuan Guru,” sahut Lora Hasyim Asy’ari.

“Masya Alloh,” kata TGB tersenyum.

Adab santri Ponpes Nurul Cholil Bangkalan ketika TGB HM Zainul Majdi bersama para pengasuhnya usai mengisi ceramah agama.

Dikatakan, memang untuk urusan ketaatan kepada ulama, masyarakat Madura masih kuat memegang itu. Suara dari para kiai masih sangat di dengar. Para ahli agama mendapat tempat luar biasa di hati masyarakat. TGB mengakui, beberapa kali mendapat sambutan yang luar biasa.

“Dimana itu, itu santrinya berjejer sampai malam menunggu. Masya Alloh, takzim dan hormat sekali,” cerita TGB.

Ditengah bincang-bincang tentang Madura, pembicaraan berikutnya membahas mengenai Surat At Taubah, ayat 128 dan 129 yang kerap disinggung oleh TGB. Di dalam penjelasannya TGB menyampaikan, pada ayat tersebut menceritakan Rasululloh Muhammad SAW yang datang kepada umat. Dan begitu sayang kepada umatnya.

“Tuan guru dua ayat tersebut dulu kami diijazahkan untuk dibaca setiap usai Subuh dan Maghrib, katanya untuk perlindungan diri,” kata salah seorang tim Dakwah TGB.

“Iya. Dahulu, Ninik (Maulanasyaikh TGKH Zainuddin Abdul Madjid) juga mengijazahkan itu sebagai doa perlindungan,” jawab TGB.

TGB berkisah, Maulanasyaikh setiap berdakwah melarang santrinya berada di depan. Pun saat berada di kendaraan, Pahlawan Nasional asal NTB ini kerap minta duduk di depan.

“Termasuk ketika pagi hari. Sebelum beliau keluar rumah, dilarang siapapun keluar. Biasa setelah beliau keluar, akan didapati benda yang aneh-aneh (gaib),” bebernya.

Diantara yang dibaca oleh Maulanasyaikh, kata TGB, Laqad ja`akum rasụlum min anfusikum ‘azizun ‘alaihi ma’anittum ḥariṣun ‘alaikum bil-mu`minina ra`ụfur raḥim. Fa in tawallau fa qul ḥasbiyallahu la ilaha illa huwa, ‘alaihi tawakkaltu wa huwa rabbul-‘arsyil-‘aẓim.

“Ketika membaca fa in tawallau fa qul ḥasbiyallahu, ditekan di dalam hati faqul hasbiyallahu. Diantara kaifiyatnya ya itu tadi (menangkal) yang buruk-buruk,” lanjutnya.(febrian putra)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *