Begini Pesan TGB di Bulan Dzulhijjah

Posted on

Mataram-Usai Salat Jumat, pengajian kembali di Masjid Hubbul Wathan, Islamic Center, Mataram. Protokol Virus Korona ketat diterapkan di masjid kebanggaan warga NTB.


Pengajian diisi oleh Ketua Umum Dewan Tanfidzyah PB Nahdlatul Wathan TGB HM Zainul Majdi. Sebelum memulai pengajian, Gubernur NTB periode 2008-2018 ini mengingatkan untuk tetap menjalankan protokol Covid-19.


“Makanya saya masih memakai masker,” katanya, Jumat (24/7).


Dijelaskan, dalam Islam disampaikan la dharar wala dhirar,  tidak boleh membahayakan diri dan membahayakan orang lain. Ketika dalam situasi sempit, nilai Islam akan melapangkan yang sempit.


“Saat pandemi banyak aturan. Seperti menjaga jarak paling salat berjamaah,” sambungnya.


Saat salat, sambung TGB, selalu menyampaikan min tamamis salat, keindahan atau kesempurnaan ialah menghilangkan jarak. Salat dengan rapat.


“Ini bukan wajib, bukan rukun. Ketika diterapkan dalam ubudiyyah (menjaga jarak) ternyata menyulitkan,” bebernya.


Kepada jamaah yang hadir Doktor Ahli Tafsir Alquran ini menyampaikan, paparan Pandemi Korona di Kota Mataram masih tinggi. Protokol-protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, maupun mencuci tangan harus tetap dijalankan.


“Kita semua berdoa semoga virus ini segera berakhir,” tambahnya.


Pengajian yang semula membahas tafsir oleh TGB diganti dengan membahas kemuliaan Bulan Dzulhijjah. Di Bulan Ramadan ada 10 malam istimewa di penghujung bulan. Ada Lailatul Qadar didalamnya.


“Sekarang ada di Dzulhijjah. Rasulullah menyampaikan, tidak ada hari dimana amal soleh di dalamnya lebih dicintai dibanding 10 hari pertama Dzulhijjah,” bebernya.


Bila beberapa bulan sebelumnya bisa menikmati malam terbaik, maka saat ini bisa berjumpa hari terbaik. Salah satu istri Nabi Muhammad, Sayyidah Hafsah mengungkapkan, empat hal yang tetap dilakukan oleh rasul. Puasa 10 muharram, puasa 10 hari awal Bulan Dzulhijjah, puasa tiga hari tiap bulan di tanggal 13, 14, dan 15. Dan salat dua rakaat sebelum subuh.


“Sepuluh hari awal Dzulhijjah yang paling diperhatikan para sahabat nabi adalah memperbanyak berzikir. Bertahmid dan takbir, hari mengingat Allah,” imbuhnya.


Di Bulan Dzulhijjah, lanjut TGB, ada hari raya Idul Adha, menyembelih hewan kurban itu yang utama dalam sepuluh hari dan tiga hari tasyrik. Ketika memiliki kelapangan rizki, bisa tiap muslim bisa berkurban.


“Mimbahimatil an’am dari hewan ternak. Unta, sapi, kerbau, kambing dan domba. Hewan ini sudah disepakati. Misal saya punya 1000 ekor ayam harganya sama itu tidak bisa disebut kurban. Hewan kurban terbatas dan ada rumusannya,” urainya.


TGB menambahkan, ibadah kurban disampaikan sebagian ulama hukumnya sunnah. Tidak boleh karena kurban kemudian merasa lebih baik dari yang tidak kurban.


“Kambing itu untuk satu orang. Atas nama bapaknya. Nanti diniatkan untuk keberkahan satu keluarganya,” tambahnya.


Pada kesempatan ini, Cucu Pendiri Nahdlatul Wathan ini mengingatkan, dalam Islam mengajarkan bukan menumpuk ilmu. Yang diajarkan Islam adalah endapat ilmu kemudian diterapkan. Ketika belajar harus disesuaikan dengan prioritas. Ilmu yang masih jauh cukup dipelajari secara garis besar.


“Jangan sampai sudah melaksanakan tapi tidak mempelajari ilmunya. Seperti orang berhaji tapi tidak tahu ilmunya. Ketika di Makkah hanya mengikuti orang. Jangan sampai kita di dalam situasi ibadah namun tidak paham ibadah itu,” pesannya.(feb)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *