Beragama Itu Bukan dengan Hawa Nafsu

Posted on

Mataram-Pandemi global Virus Corona (Covid-19) terus menyebar di seluruh dunia. Korban di Indonesia baik yang meninggal maupun positif terpapapar Covid-19 terus bertambah. Disaat yang sama, masih ada sebagian kelompok masyarakat mengabaikan anjuran pemerintah dan ulama untuk berkumpul.

Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) TGB HM Zainul Majdi kembali mengingatkan pentingnya mengikuti imbauan pemerintah dan fatwa para ulama.

“Badan kesehatan dunia (WHO) sudah menetapkan Virus Corona sebagai pandemi global, penyebarannya sangat cepat dari manusia ke manusia. Karena itu berkumpul menjadi sebab berbahaya. Pemerintah juga telah membuat seruan, himbauan, bahkan larangan berkumpul untuk keselamatan kita semua,” katanya di RRI Mataram, Sabtu 18 April 2020.

TGB menjelaskan, ulama dunia dari Arab Saudi, Mesir, Yordania, Malaysia, Maroko, Yaman, Emirat Arab, Tunisia, Aljazair, bahkan Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa tentang Covid-19. Lebih dari itu para tokoh umat sudah bersuara, meminta untuk mentaati seruan pemerintah.

“Tapi sampai hari ini masih banyak yang tak mengindahkan dalil Alquran dan Hadist yang disampaikan para ulama. Mereka abaikan,” ucapnya.

“Sampai ada yang berkata kita ini tak boleh takut pada Corona. Urusan hidup dan mati itu takdir Allah. Hei Pak, yang memerintahkan kita untuk menghindarkan mudarat itu Allah dan Rasululloh,” sambungnya.

Hal ini, sambung TGB, seperti disampaikan dalam Surat Al Baqarah ayat 195, wa la tulqu bi aidikum ilat-tahlukati. Jangan menjatuhkan dirimu dalam kebinasaan. Kemudian di dalam Surat An Nisa ayat 71, yaa ayyuhallaziina aamanuu khuduu hidzrokum. Hai orang beriman bersiaplah kalian. Bila bertempur ambil senjata, persiapkan pelindung. Nabi maju ke medan perang dengan pedang, perisai, baju besi, maupun topi baja untuk melindungi diri.

“Apa itu artinya nabi kurang tawakkal? Takut kepada manusia melebihi takut kepada Allah?,” kata TGB.

“Kan tidak,” sambungnya.

Saat hijrah, kata TGB, nabi juga pergi diam-diam. Tengah malam. Mewati jalan yang tidak biasa supaya tidak diketahui orang Quraish.

“Apa itu artinya nabi penakut?,” ujarnya.

Ketua Umum Dewan Tanfidzyah PBNW ini menyebut, saat penyakit menular Nabi menyampaikan firra minal majzuum firaaraka minal asadi. Larilah dari penyakit menular seperti engkau menghindari dari singa.

“Menghindari diri dari kebinasaan, dari penyakit. Berikhtiar menghindar dari wabah itu perintah agama,” tandasnya.

Selain itu, lanjut TGB, ada lagi yang mengatakan  wajib memakmurkan masjid. Salat berjamaah di masjid.


“Pak, dulu saja saat salat berjamaah di masjid ada hujan lebat nabi meminta panggilan azan diganti shallu fii Buuyutikum. Salatlah di rumah kalian,” bebernya.

Padahal, sambung TGB, itu karena hujan. Khawatir memberatkan karena ada lumpur. Apalagi ketika wabah Corona. Terbukti di dunia korbannya puluhan ribu, bahkan kini sudah ratusan ribu.


“Ini bukan hanya urusan lumpur tapi membahayakan jiwa,” tandasnya.

Ada juga yang ngeyel tetapSalat Jumat. Alasannya hanya sekali seminggu. Itu bagian dari syiar agama.

“Pak, Salat Jumat boleh ditinggalkan karena udzur Syar’i dahulu saat musafir nabi tidak salat Jumat ada beratus-ratus sahabat yang menyertai. Beliau salat zuhur mengganti salat Jumat,” urainya.

Saat sakit pun, sambung TGB, para ulama bersepakat bisa mengganti salat Jumat dengan Salat Zuhur. Sekarang ini fatwa sudah jelas dan tegas untuk kemaslahatan umum memutus rantai wabah, menyelamatkan jiwa manusia.

“Apalagi penyakit ini disebut asiptomatik (tak terlihat gejalanya). Padahal orang tersebut tanpa gejala. Padahal dia telah membawa virus,” urainya.

Karena itu TGB mengajak mengikuti fatwa para ulama, ikuti seruan pemerintah, mendengarkan pendapat dari para ilmuan.


“Saya malah bayangkan yang berkeras untuk Jumatan, jangan-jangan Rasul sendiri mereka lawan. Pada waktu musafir ketika Nabi tidak salat Jumat, mungkin mereka demo. Protes kepada nabi. Kalau mereka dahulu hijrah dengan nabi, protes kenapa hijrahnya tengah malam,” ucap Doktor Ahli Tafsir Alquran ini.

“Saat diminta Nabi salat jamaah di rumah mungkin akan demo kepada Nabi. Ya Rasululloh, ini kok disuruh salat di rumah kan rumah Alloh di masjid,” sambungnya.

La haula wala quwwata illa billah inilah yang disebut beragama dengan attadayyun bil hawaa. Beragama itu dengan hawa nafsu dan egoisme, perasaan serta anggapannya menjadi pedoman bukan tuntunan Alloh dan rasulnya, bukan ulama sebagai penerus para nabi dan rasul,” bebernya.

TGB menambahkan, dalam ayat 103 dan 104 Al Kahfi berbunyi qul hal nunabbi-ukum bil-akhsariina a’malanaa, Ladziina dhalla sa’yuhum fiil hayaatiddunyaa wahum yahsabuuna annahum yuhsinuuna shun’aa. Katakanlah Hai Muhammad orang-orang yang merugi, orang-orang yang sia-sia perbuatan mereka padahal mereka menyangka sudah berbuat yang sebaik-baiknya. Kata Imam Thabari mereka adalah kullu amilin amalan yahsabuhum fiihi musiban wa annahu lillahi bi fiklihi dzalika mutii’un murdhi wahuwa bi fiklihi dzalika lillahi mushith wa an thariqi ahli imani bihi jahir.

“Orang yang beramal dengan amal yang disangka tepat, merasa menjadi taat danmendapat ridha Allah padahal kerjaan mereka membuat Allah murka. Jauh dari orang beriman,” tutup TGB.(msi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *