Delapan Perintah Sebagai Pokok Syariat

Posted on
Mataram-Kajian tafsir oleh TGB HM Zainul Majdi, Jumat 4 September 2020 di Masjid Hubbul Wathan, Islamic Center Kota Mataram kembali digelar. Dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan, petinggi Nahdlatul Wathan ini mengulas Surat Al-Baqarah ayat 83 :

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَٰقَ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا ٱللَّهَ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَقُولُوا۟ لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِّنكُمْ وَأَنتُم
مُّعْرِضُونَ

“Wa iz akhazna misaqa bani isra ila la ta’budụna illallaha wa bil-walidaini iḥsanaw wa zil-qurba wal-yatama wal-masakini wa qulu lin-nasi ḥusnaw wa aqimus-salata wa atuz-zakah, summa tawallaitum illa qalilam mingkum wa antum mu’ridun.”

Artinya, Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.

Kepada jamaah TGB menyampaikan, penting betul membaca Alquran sebagai pintu memahami kitab suci. Di dalam kitab suci, mendetilkan hal-hal yang kurang detil. Tidak perlu diperdebatkan sepanjang hal tersebut dianggap kurang substansi. Seperti kisah Ashabul Kahfi di dalam Alquran membahas jumlahnya, menyebut tiga orang, lima orang, hingga delapan orang termasuk anjingnya.

“Sudah tidak perlu lagi mendebatkan siapa nama-nama pemuda ini. Tidak perlu mendetilkan pada perincian yang tidak berkonsekuensi pada ibadah,” katanya.

Pada Surat Al-Baqarah ayat 83 ini mengurai tentang perjanjian Bani Israil. Misaqa bermakna tentang komitmen yang disepakati. Delapan perintah dalam satu ayat. Ada kata, tidak menyembah selain Allah. Oleh ulama disebutkan memang seperti itulah kehidupan.

“Itu yang seharusnya. Kemudian, wabil walidaini ihsana, setelah tauhid kemudian berbakti kepada kedua orang tua. Berbuat baik kepada kedua orang tua,” ujarnya.

Dijelaskan, Alquran mengistimewakan orang tua. Dalam semua keadaan tidak bisa lepas dari orang tua. Kalaupun orang tua non muslim, sepanjang tidak mengajak pada kekufuran harus tetap diikuti.

“Setelah pisah kepada orang tua ada penghasilan, jangan nitip uang lewat orang lain untuk orang tua. Harus bawa sendiri itu ihsan (puncak kebaikan) bukan sekadar substansi tapi juga caranya,” bebernya.

“Bila orang tua sudah sepuh tidak hanya mempersilahkan duduk, namun menuntunnya. Itulah ihsan,” sambungnya.

Lebih lanjut, ihsan itu hilang ketika orang  tua yang non muslim memaksa anaknya berbuat tidak baik menurut Islam, bahkan sampai menyiksa anak.

“Jangan marah, tetap temani dia jangan putuskan silaturahmi. Orang tua sebagai wasilah kita sehingga hadir di dunia, kemudian belajar dan mendapat hidayah. Meski orang tua kasar kepada anak jangan kemudian anak memukulnya, tetap ada kadar minimal untuk sopan. Itulah kenapa yang menempel adalah bil walidaini ihsana, tidak menggunakan ila. Bil itu menempel pada jati diri, sementara kata ila bisa berarti baik sekarang atau nanti,” jelasnya.

Berikutnya, sambung TGB, menyambung silaturahmi kepada keluarga. Berbuat baik kepada keluarga. Ketika ada kelebihan harta, peduli kepada saudara. Dapat silaturahmi keluarga dan sedekah. Setelah itu, memperhatikan anak yatim. Yang dimaksud dengan anak yatim disini adalah ditinggal oleh orang tuanya sebelum baligh.

“Nabi Muhammad bersabda, saya bersama penanggung anak yatim di surga begini seperti telunjuk dan jari tengah,” terangnya.

Selanjutnya, peduli dengan orang miskin, al masakin. Jamak dari miskin, mereka ini ada uang namun tidak mampu memenuhi kebutuhan.

“Berbuat kepada miskin saja harus, apalagi yang fakir. Ukurannya kebutuhan melebihi  batas kemampuan untuk disebutkan miskin. Ulama berbeda-beda menyebut miskin. Diserahkan pada situasi dan keadaan. Bisa jadi untuk dia bisa, hanya anak dan istri tidak bisa. Untuk pribadi cukup, istri dan anak tidak cukup, maka ini disebut miskin,” urai TGB.

Pada ayat ini, tambah cucu Maulanasyaikh TGKH M Zainuddin Abdul Madjid mengajak untuk berucap, bertutur kata yang baik ketika di keramaian. Mengeluarkan kata-kata yang baik.

“Mengucapkan yang baik kepada linnas sesama manusia. Aninnas, membicarakan orang yang tidak bersama kita harus baik,” katanya.

“Di majelis ilmu tapi suka membicarakan orang. Fungsi yang dilakukan di majelis ilmu adalah seperti yang dilakukan nabi. Ketika di mimbar, kita ini sedang meminjam mimbar nabi. Apa tidak malu di mimbar malah nyumpak nyenak?. Begitu pula dengan majelis ilmu. Nabi mengajak dan mendidik umat. Hati-hati ketika berada di mimbar dan majelis ilmu,” sambungnya.

Kemudian, perintah menunaikan salat. Ini menjadi kewajiban pada semua umat dari seluruh nabi dan rasul. Terakhir mengenai, zakat yang ada di setiap nabi. Hanya nishab (batas mengeluarkannya) dan proses zakatnya beda-beda. Namun, perintah zakat tetap ada di setiap periode nabi dan rasul.

“Ada delapan perintah dalam satu ayat.
Inilah pokok-pokok syariat dari Allah, ini berlaku pada semua umat. Ini untuk semua umat, disampaikan kepada Nabi Musa untuk Bani Israil,” tandasnya.

Kemudian di akhir ayat disampaikan, Bani Israil berpaling dan mengingkari, kecuali sebagian kecil. Mereka erpaling tidak sekali atau dua kali, mereka memang orang-orang yang berpaling dan sifatnya seperti itu. Ujung ayat ini menjadi contoh ketika masyarakat dikatakan tidak baik. Ketika sebagian besar berbuat buruk, hanya sedikit yang berbuat baik.

“Disebut baik kalau sebagian besar cinta kebaikan, meski ada sedikit yang berbuat salah. Indonesia tetap Baldatun Toyyiban Warrabbun Ghafur, bisa dilihat dati persentase umat Islam, syiarnya Islam dengan 800 ribu masjid dan musala, ormas Islam begitu banyak, ditambah pesantren dan madrasah menyebar di Indonesia,” urainya.

“Jangan terpancing dengan sebutan rusak. Ini cara membangun optimisme sebagai umat Nabi Muhammad. Dari delapan hal dalam Al-Baqarah ayat 83, dua terkait ibadah mahdhoh, enam lainnya dengan manusia,” tutup TGB.(feb)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *