Gagasan Gus Dur Harus Terus Dirawat

Posted on

HAUL Gus Dur kesebelas digelar secara hybrid oleh GusDurian Kairo, Rabu 24 Maret 2021. Perbincangan daring ini diikuti oleh peserta dari Mesir maupun Indonesia. Bincang-bincang berlangsung begitu menarik.

Hadir sebagai pembicara Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) Cabang Indonesia TGB HM Zainul Majdi, Koordinator Nasional Jaringan GusDurian Alissa Wahid, Intelektual Nahdlatul Ulama (NU) Gus Ulil Absar Abdalla, Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia Islah Bahrawi, Founder Ngaji KGI Dr Nur Rofiah, serta Pegiat Dakwah Milenial Habib Husain Ja’far Al-Hadar. Perbicangan daring selama dua jam seolah tak terasa. Penulis mencatat beberapa hal dari acara yang digagas oleh PCINU Mesir, PCNW Mesir, dan GusDurian Kairo.

Koordinator Jaringan Gus Durian Alissa Wahid yang juga anak sulung KH Abdurrahman Wahid membuka diskusi. Ning Alissa, begitu biasa disapa, merasa senang akhirnya berada dalam satu forum bersama TGB HM Zainul Majdi. Acara ini sekaligus pertama kali bagi Ning Alissa bertatap muka dengan Jaringan GusDurian Kairo. Haul yang digelar ini ia harapkan bukan sekadar untuk meramaikan semata. Lebih dari itu, haul ini menjadi kesempatan mempelajari apa yang telah dilakukan Gus Dur. Tentu, bukan ukan untuk puja-puji belaka.

“Saya ini tipikal pekerja, tidak bisa berbicara seperti Tuan Guru. Nanti saya akan sampaikan dengan slide,” katanya mengumbar senyum.

Ning Alissa menampilkan kutipan-kutipan ucapan yang selama ini lekat dengan Gus Dur. Diantaranya, lebih penting dari politik adalah kemanusian. Ada pula, ketika menjadi pemimpin itu menjadi instrumen memperjuangkan kemanusian.

Pemaparan Ning Alissa Wahid mengenai gerakan dan gagasan KH Abdurrahman Wahid.

Memuliakan manusia manusia berarti memuliakan penciptanya. Sebaliknya ketika menghinakan manusia, berarti menghinakan penciptanya.

“Ada juga Islam adalah inspirasi bukan aspirasi. Yang juga sering disebut lainnya, Tuhan tidak perlu dibela,” sambungnya.

Kiprah Gus Dur, setelah kembali ke Indonesia di ranah Organisasi Islam NU dimulai dengan memunculkan Islam ramah, bukan Islam marah, tanpa ada koma.  Membuat organisasi yang didirikan kakeknya ini menjadi kuat dan terbuka. Mendorong generasi muda NU mendunia, dan terakhir memperkuat hubungan antar iman.

Saat menjadi Presiden Indonesia, Ning Alissa menyebut sejumlah pencapaian yang dilakukan Cucu dari Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari ini. Dimulai dari pemisahan militer dan polisi. Kemudian pembubaran organ yang rentan dikooptasi, saat itu yang dibubarkan adalah Departemen Sosial. Berikutnya penyiapan KPK, lembaga Ombudsman, dan Komisi Yudisial.

“Indonesia memiliki kelebihan dari sisi kelautan. Oleh Gus Dur kemudian dihadirkan konsep negara maritim,” terangnya.

Selain itu, sambung Ning Alissa, resolusi konflik berbasis martabat kemanusiaan di Papua, Aceh, Timor Leste, dan Maluku. Kemudian Menutup luka sejarah 1965 terkait dengan PKI serta memberi ruang bagi etnis Tionghoa. Terakhir mengeluarkan Inpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang mainstreaming gender.

“Gerakan Gus Dur ibarat prisma. Cahaya putih ketika menembus prisma menghasilkan beragam warna,” bebernya.

Ning Alissa menambahkan, ada sembilan nilai yang dipelajari dari Gus Dur, dengan titik tekan utama kepada Tauhid. Kemudian menghadirkan nilai kemanusian, keadilan, kesetaraan, dan pembebasan sebagai nilai instrumental. Menjalin persaudaraan. Ada nilai kesederhanaan, keksatriaan, dan kearifan lokal dengan selalu menghargai segala hal yang dimiliki bangsa ini.

Ia kemudian mengisahkan, Muktamar Cipasung 1994, saat itu kekuasaan menghalangi Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU. Penulis mengutip kisah muktamar ini dari Buku Autobiografi Gus Dur yang ditulis Greg Barton, pemerintah tak menghendaki Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU. Mobilisasi dilakukan dengan menghadirkan tantara beserta kendaraan tempurnya.

Calon bayangan sudah disiapkan pemerintah. Seorang pengusaha. Disaat yang sama menteri-menteri utusan presiden terus mengintimidasi peserta muktamar. Digambarkan suasana kiai saat itu diliputi kesedihan. Sedangkan anak-anak muda NU gundah. Panik mencari jalan keluar.

“Saat itu disebut Pak Harto yang keras menolak Gus Dur. Tapi, setelah itu tetap datang ke kediaman Pak Harto. Sama seperti ketika Gus Dur diturunkan, kemudian digantikan Ibu Mega, saat Tahun 2004 Ibu Mega kalah di pemilihan presiden, yang pertama datang adalah Gus Dur,” urainya.

Sementara Gus Ulil Absar Abdalla menyinggung mengenai pentingnya merawat gagasan dan pikiran. GusDurian sebagai salah satu perawat gagasan Gus Dur. Ia berkisah, empat imam Mahzab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali) beruntung dianugerahkan murid dan orang yang mengabadikan gagasan dan pikirannya. Diluar empat mahzab, ada Mahzab Imam Auza’i, Imam Abu Jafar At Thobari, ataupun Imam Al Laits. Ketiganya hilang karena tak ada murid yang mengabadikan. Tertelan sejarah. Ini sebagai cermin betapa pentingnya merawat gagasan dan pikiran.

“Gus Dur yang dianugerahkan banyak orang mengkaji beliau. Banyak yang meninggal gagasannya kemudian ditinggalkan. Jaringan Gus Dur untuk merawat gagasan,” kata pengampu Ngaji Online Kitab Ihya Ulumuddin ini.(febrian/bersambung)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *