Kesederhanaan Ibunda Presiden Jokowi

Posted on

انا لله و انا اليه راجعون

اللهم اغفر لها و ارحمها و عافها و اعف عنها و أكرم نزلها ووسع مدخلها و اغسلها بالماء و الثلج و البرد و نقها من الخطايا كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس

Semoga Almarhumah dikaruniakan husnul khatimah.
Sebaik-baik akhir, sebaik-baik penutup.

-TGB HM Zainul Majdi-

BERITA duka datang dari Solo, Jawa Tengah. Ibunda Presiden Indonesia Joko Widodo, Eyang Hajjah Sudjiatmi Notomihardjo atau Mbah Noto, wafat. Kembali kepada Sang Pencipta. Ada sedikit cerita mengenai sosok Mbah Noto dalam sebuah kesempatan di Solo. Kala itu, Ibunda Presiden ini hadir dalam sebuah acara yang mengundang Ketua Organisasi Islam Alumni Al Azhar (OIAA) Cabang Indonesia TGB HM Zainul Majdi. Pada moment tersebut, Ketua Umum Dewan Tanfidzyah Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW) ini secara khusus berbincang-bincang bersama Mbah Noto dan putri-putrinya.

Lobi Hotel Sunan, Solo begitu ramai. Puluhan orang bergiliran memasuki ballroom. Acara besar nampaknya segera digelar. Dari backdrop tertulis acara bedah buku Jalinan Keislaman, Keumatan, dan Kebangsaan Presiden Joko Widodo. Salah satu pembicara adalah TGB HM Zainul Majdi.

Sementara itu, di salah satu ruangan TGB berbincang bersama beberapa kawan lama Presiden Joko Widodo, ada Slamet Raharjo pengurus Asosiasi Mebel Indonesia (Asmindo), Ketua Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Partai Golkar Dito Ariotedjo, dan beberapa tamu lainnya.

“Blusukan itu sudah dimulai saat jadi pengusaha mebel. Keliling naik sepeda dari pabrik ke pabrik,” cerita Slamet Raharjo membuka kisah kepada TGB.

Gaya turun ke masyarakat dan melihat dari dekat diakui Slamet terbawa ketika Joko Widodo menjadi Wali Kota Solo, kemudian Gubernur DKI Jakarta, dan terakhir Presiden Indonesia menjadi kepala negara. Kebiasaan turun ke masyarakat dan melihat lebih dekat.

“Jadi bukan pencitraan,” ucapnya.“Salah kalau disebut pencitraan. Mereka tidak tahu gaya Pak Jokowi dari dulu,” sambungnya.Latar belakang sebagai pengusaha, membuat presiden yang akrab disapa Jokowi ini paham dunia usaha. Paham proses ekspor maupun impor. Itu kemudian yang membuatnya sering membuka beberapa persoalan terkait ekspor atau impor.

“Persoalan ekspor dan impor ini sering dibahas. Katanya memberatkan pengusaha,” lanjutnya.

Jokowi diakui Slamet, terbiasa memulai sesuatu secara bertahap. Saat membuat usaha mebel pun dimulai dari kecil tak langsung skala besar. Ketika mebel sudah berjalan, Jokowi tak memonopoli. Ia lebih senang mengajak banyak pengerajin mebel untuk terlibat. Hal itu menjadi salah satu langkah yang membuat usaha mebel berjalan  seimbang.

Keberpihakan Jokowi pada pengusaha juga jelas. Pernah dibuktikan ketika mewakili protes pengusaha mebel mengenai bahan baku. Kala itu, menteri membuka kuota bahan baku dari luar negeri. Pengusaha mebel kemudian bersama-sama mengajukan nota protes. Jokowi termasuk yang mendukung langkah ini. Termasuk ide tol laut itu bentuk keberpihakan kepada pengusaha.

“Karena alur distribusi di dalam negeri lebih repot dibanding ke luar negeri,” kata Slamet.

Cerita Slamet ini direspon TGB. Menurutnya, pengalaman panjang dari Presiden Jokowi mempengaruhi cara pandangnya. Dalam banyak hal selalu menanyakan segala persoalan hingga detail.

“Setiap presentasi selalu menanyakan sampai bawah. Tak hanya bicara makro, namun juga mikro,” katanya.

Ditengah obrolan ini, panitia memberi kode bila ibunda Presiden Jokowi beserta putri-putrinya telah tiba di hotel.

“Beliau ingin kesini dulu, bertemu Pak TGB,” katanya.

Benar saja, tak berapa lama Hajjah Sudjiatmi Notomiharjo dengan jilbab abu dan baju putih mendekat. Tak sendiri, ketiga putrinya Iit Sriyantini, Ida Yati, dan Titik Relawati ikut mendampingi. Ketiga putrinya ini memakai baju senada, warna coklat.

Tak ada yang spesial. Tanpa pengawalan ataupun protokoler yang berlebihan. Kesan sebagai ibunda kepala negara tak terlihat. Pun begitu dengan putri-putrinya.

Begitu berjumpa TGB, senyumnya mengembang. Bincang-bincang ringan dimulai. Sederhana dan apa adanya.

“Doakan terus beliau (Jokowi) ya Bu,” kata TGB.

Doktor Ahli Tafsir Alquran Alumni Al Azhar ini kemudian berkisah, kekuatan doa ibu ini juga diceritakan Gubernur Jawa Barat Ridwal Kamil. Gubernur yang akrab Kang Emil itu bercerita kalau dukungan untuknya saat Pilkada Jawa Barat tak sebesar calon lainnya. Malahan pasangan lain didukung tokoh umat. Sampai dari luar daerah pun ikut mendukung kompetitor Kang Emil.

“Dia cerita, sampai gundah,” ujarnya.

Tak ada jalan lain, lanjut TGB, saat itu Kang Emil langsung mendatangi ibundanya, meminta doa restu dan dukungan.

“Doa ibu saya kata Kang Emil akhirnya ngalahin semuanya. Doa Ibu itu keramat,” ujarnya.

Mengenai doa ibu, TGB menambahkan, di dunia ini yang tulus berdoa tanpa henti adalah ibu. Orang lain berdoa hanya sehari, sebulan, atau setahun.

“Doa orang kan tergantung kepentingannya. Kalau ibu terus-menerus tiada henti,” tegasnya.

Mbah Noto merespon cerita TGB. Ia mengaku senantiasa membaca doa untuk putranya. Meski menjadi kepala negara, dirinya tak khawatir.

TGB HM Zainul Majdi berbincang dengan Almarhum Hajjah Sudjiatmi Noto Miharjo dan putrinya di Solo.

“Selalu saya bacakan Al Fatihah dan Al Ikhlas setiap usai Salat Maghrib sampai 100 kali. Saya doakan supaya semua dimudahkan,” ceritanya.

Di beberapa kesempatan berbeda saat TGB berjumpa Mbah Noto, diakui soal kesederhanaan ini. Penampilan selalu memang apa adanya. Sosok religius yang tetap berinteraksi secara wajar dengan warga sekitar. Termasuk kerap mengikuti pengajian bersama warga. Kesan sebagai ibunda Presiden Indonesia dua periode tak terlihat. Sugeng tindak Eyang.(febrian putra)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *