Masa Sulit, TGB Ingatkan Umat Agar Bersedekah

Posted on

Mataram-Dampak dari Virus Korona (Covid-19) dirasakan begitu luas oleh masyarakat. Perusahaan banyak merumahkan karyawan. Dalam kondisi sulit ini, Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) Cabang Indonesia TGB HM Zainul Majdi mengingatkan supaya umat Islam memiliki kepedulian kepada saudara sesama muslim.

Ketua Dewan Tanfidzyah Nahdlatul Wathan TGB HM Zainul Majdi menyinggung mengenai sedekah. Dijelaskan, sedekah menjadi bukti tak terbantahkan dari keimanan seseorang. Hadist ini mengingatkan keimanan tak cukup hanya pengakuan, keimanan butuh pembuktian. Islam bukanlah agama yang mengajarkan formalitas. Mencukupkan diri pada pengakuan atau ucapan bahkan tulisan. Agama Islam mengajarkan tentang hal-hal yang diperjuangkan dalam kehidupan.

“Maka jamaah Jumatan, selantang apapun takbir kita. Bahkan pada zaman ini kita punya media sosial sebanyak apapun postingan dan tulisan yang membela Islam. Apabila kita menelantarkan anak yatim, tidak memberi makan orang miskin padahal kita mampu, maka kita bukanlah mukmin yang baik,” katanya di Masjid Hubbul Wathan Islamic Center Kota Mataram, Jumat (3/6).

“Dalam Surat Al Ma’un bila dibaca, disebutkan pendusta agama,” sambungnya.

TGB melanjutkan, beberapa waktu lalu umat Islam ramai turun ke jalan ketika ada yang berbicara kurang tepat tentang Alquran. Ada perasaan terusik oleh orang tersebut. Boleh jadi itu beralasan, demikian diajarkan tak boleh siapapun menghina Alquran.

“Sebagai mana pula kita diajarkan tak menghina kitab suci agama lain,” sambungnya.


Tetapi, TGB bertanya, sudahkah umat intropeksi kepada diri masing-masing untuk mempedulikan anak yatim, membantu orang miskin yang memang bisa dibantu.

“Atau jangan-jangan seperti disampaikan dalam Surat Al Ma’aun, aroaitalladzi yukaddibubiddin. Apakah kamu ketahui, buka matamu telinga, buka matamu, buka hatimu yaitu orang yang mendustakan agama,” ujarnya.

“Fadzalikaladzi yadu’ul yatiim. Mereka itulah yang menelantarkan anak yatim,” sambungnya.

Ditambahkan TGB, walayakhuddu alaa thoamil miskiin, tidak mengajak memberi makan orang miskin.

“Padahal orang tersebut mampu,” tegasnya.

Lebih jauh, kadang dalam perhatian sehari-hari, banyak yang disibukkan untuk memperhatikan sesuatu yang belum jelas ujung pangkalnya. Tidak jelas kemaslahatannya bagi dunia dan akhirat. Untuk agama, terlalu banyak bicara detail politik.

“Hingga lupa sampai saat ini di Indonesia tiga juta warga Indonesia kehilangan pekerjaan, mereka jatuh dalam lubang kemiskinan, saya bisa pastikan kita semua tahu mayoritas itu adalah umat Islam,” ucap Gubernur NTB dua periode ini.

Pada situasi saat ini, Doktor Ahli Tafsir Alquran ini mengajak jamaah untuk senantiasa berbagi. Menyiapkan nasi bungkus, mengulurkan bantuan dari tiap kelebihan. Itu semua berarti bagi kemuliaan sebagai umat dari Nabi Muhammad SAW.

Dikatakan, Allah dalam Surat Al Balad memberi ilustrasi kehidupan, orang mukmin ada penghalang atau tabir untuk mencapai keselamatan. Tabir itu bukan untuk dihindari melainkan harus diterobos.

“Falaqtakhamal aqobah, wa maa adrokamal aqobah. Taukah kamu apa penghalang itu, menghalangimu dari keridhaan Allah. Apakah itu, faqquroqobah, membebaskan budak,” terangnya.

Cucu Maulanasyaikh TGKH M Zainuddin Abdul Majid ini melanjutkan, au itaamun fii yaumindzii masghobah, yatiiman dzaa maqrobah, au miskiinan dzaa matrobah. Memberi makan pada masa krisis, masa kelaparan, seperti saat pandemi.

“Inilah tirai yang kalau kamu mampu menembus diibaratkan Aqobah, bukit yang tinggi membutuhkan tenaga menaikinya. Seperti pengorbanan saat situasi sekarang,” imbuhnya.

Memberi sedekah, kata TGB, oleh para ulama disebutkan bukan sekadar yang memiliki hubungan kekerabatan. Tetangga sekitar pun perlu diperhatikan. Dalam ayat, au miskiinan dzaa matrobah, memberi makan kepada orang yang tidak mampu merawat dirinya.


“Bantulah mereka, maka kita sudah menembus penghalang itu, bantuan kita adalah jalan keselamatan,” tambahnya.

Dalam sebuah riwayat, disebutkan idzaamaatal insan, ketika seorang manusia meninggal. Qoolal malakuu maadzaa qoddam wayakulul insan madzaa qollaf. Ada dua pembicaraan pada dua malaikat terkait apa yang telah dilakukan seseorang.

“Sedekah kita, harta yang kita habiskan dalam kebaikan. Pemberian yang kita titipkan, itulah kekayaan di sisi Allah. Sedangkan antar manusia berbicara madzaa qollaf, apa yang dia wariskan untuk ahli warisnya,” kata TGB lagi.


Warisan itu, tambah TGB, belum tentu membawa keberkahan bagi keturunannya. Ketika ahli waris menggunakan untuk kebaikan patut disyukuri.

“Namun, tak sedikit orang tua yang bersusah payah mencari harta justru digunakan oleh keturunan untuk hal kurang baik,” terangnya.

Maka sebaik-baik harta, adalah yang diberikan pada masa seperti saat ini. Rasulullah menggambarkan manusia kelak di akhirat ketika menunggu dihisab. Ada matahari yang dihilangkan cahaya, tersisa panas semata.

“Maka saat menanti giliran yang menaungi adalah sedekah kita. Semoga Allah memberi kesempatan memberi keberkahan pada harta kita,” tandas TGB.(feb)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *