Pojok Gus Dur dan Lukisan TGH Umar Kelayu

Posted on
PRIA berbadan besar dan tinggi berdiri di depan aula Lantai Delapan Gedung PBNU, Jakarta. Beberapa kali kepalanya melongok ke dalam aula, ia seperti sedang mencari-cari seseorang.

Wajah pria ini tak begitu asing. Kerap wara-wiri di layar kaca. Ya, ini Kholidi Asadil Alam, beken dengan panggilan Azzam dalam sinetron Ketika Cinta Bertasbih.

“Masih salat,” katanya lirih.

Kembali Kholidi mengatur posisi di pintu keluar. Di aula baru saja digelar pengajian Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Pengajian tersebut disertai teleconfrence dengan ulama asal Hadramaut, Habib Umar bin Hafidz.

Pengajian ini dihadiri ulama dan habib dari Jakarta dan sekitarnya. Di ujung pengajian Rais Amm PBNU KH Miftahul Achyar ikut hadir dan berdoa bersama.

Pengajian kitab Hadratussyaikh disampaikan Ketua Organisasi Islam Alumni Al Azhar (OIAA) cabang Indonesia TGB HM Zainul Majdi dan Ketua Aswaja Center Jawa Timur KH Ma’ruf Khozin.

“Masih salam-salaman Pak TGB,” ucap Kholidi lagi setelah kembali mengecek aula.

TGB akhirnya keluar bersamaan dengan jamaah pengajian lainnya. Bergiliran mereka bersalaman dengan ulama kelahiran Pancor, Lombok Timur.

“Assalamualaikum tuan guru,” sapa Kholidi.

“Waalaikum salam. Eh, dari kapan ada disini?,” ucap TGB.

“Kebetulan sedang ada acara di PBNU. Saya tadi dapat kabar katanya ada TGB, makanya naik,” terangnya.

“Bagaimana kabar, apa kesibukan sekarang?,” tanya TGB.

“Kabar baik tuan guru. Masih seperti biasa ngisi beberapa acara,” jelasnya.

Keduanya kemudian berjalan menuju lift. Obrolan masih terus berlanjut. Beberapa kali TGB melempar canda ke Kholidi.
Sebelum sampai di lantai dasar, TGB diajak ke salah satu ruangan.

“Tuan guru monggo (silahkan) mampir dulu ke Pojok Gus Dur,” ajak salah satu rombongan.

“Boleh. Dimana lokasinya?,” kata TGB.

Keluar lift, TGB belok kiri. Di salah satu sudut tertulis Pojok Gus Dur. Tokoh nasional maupun mancanegara ketika datang ke Kantor PBNU, selalu menyempatkan diri untuk datang ke ruangan Presiden Keempat Indonesia KH Abdurrahman Wahid ini.

“Mari Pak Tuan Guru,” kata anak muda berkacamata.

Namanya Hasan Basori, ia “penjaga” Pojok Gus Dur. Cak Bas, begitu biasa disapa, sejak 2017 silam diberi kepercayaan keluarga Gus Dur untuk mengawal Pojok Gus Dur.
Pojok Gus Dur rapi dan bersih. Buku-buku terkait Gus Dur dan NU tertata rapi. Ada meja dan kursi tamu di depannya.

TGB memiliki kisah tersendiri pada putra KH Wahid Hasyim itu.  Ia pernah ditanya soal bioskop di Mesir oleh Gus Dur.

“Saat itu saya ada agenda berjumpa beliau. Kemudian ditanya soal salah satu gedung bioskop di Mesir. Di masa saya kuliah dulu sudah sepi bioskop itu,” ceritanya.

“Beliau malah menyampaikan bagaimana film-film yang diputar disana. Wah saya kaget,” kenang TGB.
Cucu pendiri Nahdlatul Wathan ini menyampaikan kekaguman dan rasa hormat kepada Gus Dur. Sosok guru bangsa.

“Mari tuan guru masuk kesini,” ajak Cak Bas.

Disamping deretan rak buku, ada lagi ruangan. Begitu masuk, lukisan besar Gus Dur terpampang. Bersanding pula dua lukisan lainnya yaitu KH Wahid Hasyim serta Nyai Hj Solichah Bisri. Orang tua Gus Dur.
TGB HM Zainul Majdi bersama Penanggung Jawab Pojok Gus Dur, Hasan Basori.
TGB memperhatikan segala penjuru ruangan. Termasuk menengok penghargaan yang diterima Gus Dur. Ini adalah ruangan cucu pendiri Nahdlatul Ulama di Gedung PBNU.

“Mari kita hadiahkan Fatihah untuk beliau semua,” pinta TGB.

Keluar dari ruangan Gus Dur, TGB tak langsung pergi. Gubernur NTB dua periode ini melihat-lihat buku yang berjajar, sesekali melempar tanya kepada Cak Bas.

Lukisan TGH Umar Kelayu

Keluar dari Pojok Gus Dur, langkah kaki TGB terhenti. Wajahnya memandang beberapa lukisan. Ada satu lukisan yang membuat TGB memandang lama.

“Ini Tuan Guru Umar Kelayu, siapa yang lukis?,” tanya TGB.

“Beliau ini gurunya tuan guru-tuan guru di Lombok,” sambungnya.

Siapa sebenarnya TGH Umar Kelayu?Mengutip dari sejumlah literatur tertulis, TGH Umar Kelayu belajar membaca Al-Quran pada Ayahandanya Kyai Ratane. Kemudian pada Haji Muhammad Yasin yang juga berasal dari Desa Kelayu. Kemudian berguru pada TGH Mustafa di Sekarbela yang ketika itu disebut-sebut masyarakat ahli Nahwu. Kemudian berguru kepada TGH Muhammad Amin di Sesele untuk belajar Tafsir, Qawaid, dan Ilmu Nahwu.

Setelah itu TGH Umar Kelayu berangkat ke Makkah. Tinggal selama 15 tahun di tanah suci. Diantara guru TGH Umar Kelayu  yaitu Syekh Musthofa Bin Muhammad Al-Afifi, salah seorang ulama ahli hadis. Syekh Mustafa Al-Afifi adalah guru dari para ulama Nusantara abad 19 Masehi  beberapa di antaranya adalah Hasan Mustafa Garut (1268H./1852M–1348H./1930M) KH Ahmad Kholil Bangkalan (1235H/1820M–1341H/1923M) dikenal sebagai guru para ulama Madura dan Jawa.

Sekembalinya dari menuntut ilmu di Tanah Suci Makkah, pada usia kurang lebih 29 tahun, TGH Umar Kelayu mulai membuka pengajian halaqah seperti saat belajar di Masjidil Haram di teras rumahnya Bawa ’Sabo Gubug Tenga’ Kalayu. Dalam kurun waktu yang tidak lama, nama TGH Umar sudah tersebar luas di Pulau Lombok sehingga murid-murid berdatangan dari berbagai desa baik di Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah, maupun Lombok Barat. Mereka menuntut ilmu agama di Desa Kelayu.

Disebutkan TGH Umar  juga berguru pada Syekh Zainuddin Sumbawa dan Syekh Abdullah Karim Daghestan.  Syekh Abdul Karim al-Deghestan juga merupakan guru ulama  Indonesia. Beberapa ulama terkenal di Indonesia pernah berguru padanya,  seperti Kiai Mugni al-Batani dari Banten.

TGB HM Zainul Majdi memandang lukisan guru ulama nusantara asal Lombok, TGH Umar Kelayu di Kantor PBNU, Jakarta Pusat.

TGH Umar Kelayu mempunyai murid yang cukup banyak dari berbagai negeri dan daerah seperti, Palembang, Johor, Kedah, Jawa, Bali, Perak, Lampung, dan Lombok. Murid-muridnya yang terkenal dan menjadi ulama besar di luar Lombok antara lain, Syekh Muhammad Zen Bawean (Makkatul Mukarramah), TGH Abdul Patah Pontianak (kalimantan), Tuanku Haji Daud Palembang (Sumatra), Buya Haji Nawawi Lampung (Sumatra), Gurutta H. Abdurahim Kedah, KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdatul Ulama).

Sedangkan yang dari Lombok sebagai penerus perjuanganya antara lain, TGH Rais Sekarbela, TGH Saleh Hambali Bengkel, TGH Abdul Hamid Pejeruk Mataram, TGH. As’ari Sekarbela, TGH. Abdul Karim Praya, TGH. Mali Pagutan, TGH. Muhammad Saleh alias Tuan Guru Lopan, TGH. Syarafuddin Pancor, TGH. Badarul Islam Pancor (putra TGH Umar Kelayu), TGH. Muhammad Ali Kelayu  (Keponakan), TGH. Abdullah Kelayu, TGH. Zainuddin Tanjung, TGH. Mohammad Thohir Mamben, TGH Nuh. Dari murid-murid TGH Umar Kelayu tersebut banyak yang kemudian menjadi tokoh-tokoh penting di organisasi kemasyarakatan Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Nahdlatul Wathan di Lombok. Banyak juga yang kemudian menjadi guru tarekat.(febrian putra)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *