TGB HM Zainul Majdi menjadi pembicara bedah buku Jalinan Keislaman, Keumatan, dan Kebangsaan Joko Widodo di Solo, Tahun 2019.

Ulama dan Politik : Relasi Politik Tuan Guru Bajang pada Pemilu 2019

Posted on
Muh. Arif Royyani, Tika Ifrida Takayasa *

 Abstract

Political contestation in the 2019 elections is not only about the contestation of political parties, but the involvement of the Tuan Guru and Ulama regarding ijtihad (political thought) is a concern. The use of Political Identity in the 2019 Elections is damaging to the integration of the nation and state of Indonesia. It began with the 2017 DKI regional election contestation with the start of a demonstration in the name of the defense of religion on December 12, 2016 to try Ahok who was considered blasphemous about religion. TGB is one of the figures who supported the demonstration so that it received sympathy from the alumni brotherhood of 212. PA 212 support was stopped when TGB opposed in supporting Jokowi in the 2019 Election. As Gunernur NTB, TGB had thought according to rational choice considerations in expressing its support for Joko Widodo. Rational choice through consideration of the benefit (goodness) of the people is a priority that encompasses all Indonesian people, including NTB.

Abstrak

Kontestasi politik Pemilu 2019 bukan hanya perihal kontestasi partai politik saja namun keterlibatan Tuan guru dan Ulama mengenai ijtihad politiknya menjadi perhatian.Penggunaan politik identitas pada Pemilu 2019 yang merusak integrasi bangsa dan negara Indonesia. Hal itu dimulai dari kontestasi Pilkada DKI 2017 dengan dimulainya demonstrasi atas nama bela agama 12 Desember 2016 untuk mengadili Ahok yang dinilai menistakan agama. TGB merupakan salah tokoh yang mendukung demonstrasi tersebut sehingga mendapat simpati dari persaudaraan alumni 212. Dukungan PA 212 terhenti ketika TGB berseberangan dalam mendukung Jokowi pada Pemilu 2019.Sebagai Gunernur NTB,TGB memiliki pemikiran menurut pertimbangan pilihan rasional dalam menyatakan dukungannya  kepada Joko Widodo. Pilihan rasional melalui pertimbangan kemaslahatan (kebaikan) umat adalah prioritas yang meliputi seluruh rakyat Indonesia termasuk di dalamnya NTB.

1.     Pendahuluan

Tuan Guru Muhammad Zainul Majdi atau yang lebih dikenal dengan Tuan Guru “Bajang” yang disingkat menjadi TGB adalah mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mempunyai segudang prestasi di dunia politik. Dalam waktu dua periode berhasil mengubah NTB menjadi Provinsi yang layak diperhitungkan. NTB sebelumnya termasuk jajaran Provinsi termiskin se-Indonesia bersama Papua, Papua Barat, Maluku, NTT, Sulawesi Teggara, Lampung dan Kalimantan Tengah pada tahun 2008. Buruknya infrastruktur sangat memperlambat perekonomian transportasi dan pariwisata di provinsi NTB. TGB memasang target penurunan 2% setiap tahunnya yang dituangkan kedalam RPJMD 2008-2018 (Wahyudi 2018,13).

Pada tahun 2008 NTB termasuk Provinsi dengan kondisi ekonomi yang kurang baik yang dipengaruhi oleh pendapatan daerah dan kondisi geografis yang tidak mendukung. Sektor pariwisata yang jauh kalah tertinggal daripada Bali sebagai tetangganya. Infrastruktur jalan yang belum layak dan pembangunan bandara yang lambat serta tingginya angka kemiskinan di NTB menjadi tantangan yang harus dipecahkan sebagai seorang pembuat kebijakan daerah. Data kemiksinan NTB tahun 2008 menunjukkan angka 23,81 persen atau setara dengan satu juta jiwa hidup dibawah garis kemiskinan. NTB termasuk salah satu dari 10 Provinsi termiskin di Indonesia (Wahyudi 2018, 23).

Sepak terjang Tuan Guru Bajang dalam politik dimulai saat ia menjadi politisi pada tahun 2004 yaitu menjadi anggota DPR RI NTB melalui Partai Bulan Bintang (PBB).Pada Pemilukada 2008, TGB menjadi gubernur pertama dari pemilihan langsung. Tuan Guru Bajang kemudian menjadi Gubernur termuda di Indonesia dan dipercaya kembali memimpin Provinsi NTB pada periode keduanya tahun 2013(Wahyudi 2018). Kemenangannya didominasi oleh faktor figur, ketokohan atau karisma serperti yang disebutkan disebut oleh Max Webber (1864-1920).Karisma adalah sesuatu yang luar biasa yang dimiliki oleh seorang dan mempunyai daya tarik serta karakter pribadi yang memberikan inspirasi pada mereka yang bakal menjadi pengikutnya (Johnson 1994).

Selama dua periode masa kepemimpinannya, TGB telah berhasil mengangkat NTB menjadi provinsi yang nilai pertumbuhan ekonominya termasuk terbaik skala nasional. TGB meraih penghargaan sebagai salah satu Gubernur terbaik versi Kementerian Dalam Negeri pada 2017. Hal itulah yang menjadikannya kemudian memiliki nilai tawar sekaligus daya tarik yang tinggi (Wahyudi 2018). Pembangunan Infrastruktur di NTB sejalan dengan program pemerintahan Presiden jokowi pada tahun 2014. Infrastruktur sangat penting bagi kemajuan bangsa. NTB berada di jalur strategis yang meliputi darat, laut dan udara. NTB berada di sabuk selatan yang merupakan jalur transportasi darat paling padat di Indonesia dari banda Aceh hingga Kupang. Alur Pelayaran Internasional (API) yaitu alur selat Lombok dan Selat Timor serta lintasan ‘segitiga emas’ Bali-Komodo-Toraja berada di NTB (Wahyudi 2018).

Kontestasi politik Pemilu 2019 bukan hanya perihal kontestasi partai politik saja namun keterlibatan Tuang guru dan Ulama mengenai ijtihad politiknya menjadi perhatian. Nama TGB mulai banyak didengar dan masuk dalam bursa Cawapres 2019 dari partai Demokrat. Sesuai dengan Hasil penelitian terbaru lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC 2018), terdapat lima nama calon wakil presiden yang paling disukai massa pemilih nasional untuk Pilpres 2019 yaitu; Gatot Nurmantyo, Sri Mulyani Indrawati, Mahfud MD, Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang, dan Anies Baswedan. Tiga di antaranya Mahfud MD, TGB dan Anies Baswedan dianggap memiliki kedekatan dengan umat Islam, hal yang dianggap penting pada Pilpres 2019 (SMRC 2018).

Persaudaran Alumni 212adalah sebuah sebutan dari kelompok dari aksi bela agama pada tanggal 02 Desember 2016. Aksi ini bermula dari gubernur DKI Jakarta (Basuki Tjahja Purnama) yang dianggap melakukan penistaan agama (Al-quran) dalam pidatonya.Aksi 212 ini menuntut agar Basuki ‘Ahok’ Tjahja Purnama diadili akibat kasus tersebut. TGB pun juga mengikuti aksi tersebut namun, semangat aksi 212 tidak berakhir sampai Ahok diadili (Falahudin A 2019). Aksi-aksi serupa masih dilakukan dan menjadi legitimasi baru calon yang direstui kalangan islam populis Indonesia.Besarnya pengaruh gerakan Islam dapat diamati melalui upaya.Para politisi memobilisasi bersama identitas agama untuk menarik pemilih Muslim (Nastiti dan Ratri 2018).

Hasil rakornas PA 212 di Cibubur pada 29 Mei 2018, merekomendasikan beberapa nama calon presiden yang akan didukung pada pemilihan presiden 2019 (CNN Indonesia 2018).Beberapa nama tersebut adalah Rizieq Shihab yang merupakan pemimpin dari Front pembela Islam (FPI) disusul Prabowo Subianto, Amien Rais, Tuan Guru Bajang (TGB) Yusril Ihza Mahendra, dan Zulkifli Hasan. Menurut (Nastiti dan Ratri 2018) dalam artikelnya berjudul Emotive Politics: Islamic Organizations and Religious Mobilization in Indonesia menjelaskan bahwa kombinasi antara politik patronase dan pengaruh politik organisasi islam  untuk membentuk individu menjadi subyek politik yang saleh. TGB menjadi salah satu sosok yang dianggap saleh dan religious organisasi Islam PA 212 dikarenakan keikutsertaanya pada aksi tersebut. Hal itu merupakan modal sosial dan menarik suara kaum muslim yang mewakili masyarakat non jawa khusunya NTB untuk kontestasi Pilpres 2019.

Dukungan PA 212 berakhir ketika TGB memihak pada Jokowi pada kontestasi Capres 2019 dari pada Prabowo Subianto. Dengan hanya ada dua pilihan yang sama dengan pemilihan 2014 yang head to head menjadikan persaingan dan juga polarisasi masyarakat yang tajam sehingga menjadi konflik tidak hanya di kalangan partai politik namun eskalasi konflik mengakar sampai masyarakat bawah. Melihat fenomena tersebut maka, politik Islam kontemporer di Indonesia saat ini sangat dipengaruhi oleh “pengalaman emosional dan ekspresi ”difasilitasi oleh organisasi Islam sebagai mode mobilisasi politik(Nastiti dan Ratri 2018).

Artikel ini akan membahas bagaimana kesalehan & dukungan organisasi PA 212 berubah ketika pilihan calon yang didukungnya berubah. Apakah ini mewakili pilihan masyarakat muslimin pada umumnya atau hanya penggunaan exertion of power berdasarkan preferensi politik kelompok tersebut saja. Artikel ini juga akan menggarisbawahi penggunaan intstrumen politik identitas untuk memobilisasi dan mempengaruhi pilihan politik masyarakat. Artikel ini juga akan mencoba menganalisa latar belakang preferensi politik TGB dilihat dari teori pilihan rasional.(bagian satu/bersambung)

*Muh. Arif Royyani, Tika Ifrida Takayasa Dosen di UIN Walisongo Semarang. Bisa dihubungi melalui email arif.royyan86@gmail.com  ,  tikatakayasa@walisongo.ac.id 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *